Langsung ke konten utama

When I See : Kita yang Perlu Menyesuaikan Diri

Selamat datang kembali, selamat menikmati bacaan ini.

Kali ini saya akan membahas sesuatu yang seringkali membuat pemikiran saya penuh. Tentang hidup, mimpi, lingkungan, bahkan manusia.

When i see, ketika saya melihat sesuatu yang mampu menarik perhatian saya.
Kemarin saya melihat seorang remaja laki-laki ketika saya tengah ditugaskan berjaga di salah satu gerai buku milik sekolah saya. Kebetulan gerai tersebut berada di bagian depan sekolah, dindingnya terbuat dari kaca sehingga seringkali kita dapat melihat keadaan di sekitar, di luar area sekolah bagian depan, tepatnya jalanan dan bangunan Sekolah Luar Biasa.

SLB itu terdapat di seberang sekolah saya. Sudah dua tahun saya seringkali memerhatikan gedung itu beserta para penghuninya. Tidak ada sesuatu yang berbeda, semuanya sama. Tapi tidak dengan hari itu.

Ketika gerai buku yang saya jaga sepi, tidak ada pengunjung, saya memilih untuk duduk dan membaca buku. Diam-diam perhatian saya tersedot oleh seorang remaja laki-laki dari sekolah tersebut yang pada saat itu lebih memiilih duduk di halte, padahal teman-temanya sudah pergi untuk pulang. Sesaat kemudian, dia yang saat itu masih mengenakan seragam sma-nya memilih berdiri dan meletakkan tasnya di kursi halte.

Apa yang akan dia lakukan? Hal ini membuat saya takjub, tanpa ada rasa malu dia berakting di pinggir jalan. Power yang dia tunjukkin ketika memeragakan entah siapa tokoh itu bagus dan hidup, ia begitu lihai seakaan sudah memiliki chemistry dengan tokoh yang diperankan. Saya terus mengamati dari balik kaca. Dia belum lelah, jujur sebagai siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler teater saya merasakan sesuatu yang unik dalam diri dia. Betapa ia hiraukan tatapan dan lalu lalang orang-orang yang melintasinya. Ia hiraukan suara tertawa dari orang-orang, bahkan teman seusianya yang normal. Ia tetap berakting, saya anggap ia seperti tengah melakukan pertunjukan gratis. 

Tapi yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa tidak ada orang yang menghargainya? Saya lihat hanya bapak tukang becak yang berada di samping halte yang mengapresiasi dengan memberikan dua jempol pada lelaki itu. Jika saja gerbang sekolah saya tidak ditutup, saya akan datang  ke sana meski hanya sekedar menontonnya.

His power like real! Kalau saja ada seorang relawan seni yang tiba-tiba lewat dan melihat bagaimana peragaan akting dia, saya yakin akan takjub. 

Tetapi, saya bingung banget kenapa orang-orang yang sedari tadi lalu lalang malah menertawakan dia. Melecehkannya secara halus, menganggap dia adalah orang kurang waras hanya karena mengobrol tanpa lawan bicara di khalayak umum, padahal dia tengah berlakon entah untuk melatih atau sekedar main-main saja.

Saya sadar bahwa ada dalam diri saya yang menginginkan untuk seperti dia, tanpa rasa malu dia memeragakan sebuah seni yang namanya lakon. Tanpa peduli anggapan orang yang menganggapnya gila. Jika saja semua manusia saling menghargai dan tidak memandang rendah sesuatu yang berbeda maka semua potensi yang ada di dunia ini akan terekspos sempurna. Sayangnya manusia bumi terkesan suka meremehkan, merendahkan, sampai-sampai bisa menenggelamkan talenta unik.

Jika sudah begitu, berkaca pada remaja laki-laki tadi, bahwa kita yang harus menyesuaikan diri. Tak peduli, dan lebih memilih untuk menunjukkan apa yang kita bisa, apa yang kita punya, apa yang kita mau tanpa menghiraukan orang di sekiling. Biarkan dan taruh diri kita pada apa yang kita definisikan sebagai kenyamanan. 

Dan sebagai makhluk yang dari segi fisik sempurna kita perlu paham situasi, apalagi jika berhadapan dengan seorang penyandang disabilitas. Di dunia ini tidak ada yang sempurna, semuanya sama hanya pola pikir saja yang berbeda.

Regran
Nazmiatul Ad.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Writer's Block

Selamat Datang di blog saya, di sini semua hal berbau literasi akan melintas dan dibahas. Untuk postingan blog saya yang pertama ini akan membahas perihal writer's block. Saya terangkan bahwa tidak semua orang tahu apa writer's block itu sendiri, karena istilah ini berkaitan erat dengan dunia tulis menulis sebuah karya sastra. Bahkan, writer's block itu sendiri sering dianggap tidak nyata bagi sebagian orang yang mengetahui. Saya ceritakan, pada mulanya saya pun tidak percaya, tetapi setelah mengalami sesuatu yang bisa saja disebut writer's block itu sendiri saya percaya akan adanya fenomena ini. Selanjutnya, apa sih writer's block itu sendiri? Menurut saya, writer's block adalah masa atau kondisi di mana seseorang kehilangan kemampuan untuk menulis atau kehilangan ide untuk membuat naskah tulisan baru, atau bahkan keadaan di mana kita tidak bisa melanjutkan suatu karya tulisan tertentu. Hal ini jelas sangat merugikan, apalagi bagi mereka yang tidak p...